Dibalik Majunya Pertanian Jepang

Sebagian besar wilayah Jepang merupakan pegunungan, sedangkan porsi lahan pertanian di Jepang hanya sebesar 25%. Namun dengan angka tersebut, pertanian Jepang memberikan kontribusi yangbesar dalam perekonomian Jepang. Tidal hanya lahan pertaniannya yang sempit, sumber daya alam di Jepang sangatlah miskin, tidak sama halnya dengan Indonesia yang begitu kaya dengan sumber daya alamnya. Namun, dengan pola pikir bangsa Jepang untuk selalu “berkreasi dan menciptakan” dalam segala bidang termasuk pertanian, mulailah Jepang bangkit setelah kekalahannya dalam Perang Dunia II dengan memfokuskan untuk peningkatan perokonomian melalui pertanian.
Kebijakan Pembangunan Pertanian Jangka Panjang
            Berawal dari kebijakan Peraturan Nasional tentang Konsolidasi (penyatuan) Lahan tahun 1961. Diambilnya kebijakan ini dikarenakan kepemilikan lahan di Jepang yang terpecah-pecah dan luasnya sangat kecil sehingga tidak efektif. Kebijakan penyatuan tersebut berlaku secara nasional dan wajib bagi seluruh petani di Jepang. Untuk mendukung kebijakan tersebut, pemerintah Nasional dan Pemerintah Lokal mengutamakan pembangunan infrastruktur sekitar kawasan pertanian seperti jalan usaha tani, saluran air, dll. Dengan kebijakan tersebut, pada saat ini kepemilikan lahan pertanian berkisar antara 10-30 ha/KK dan berada disekitar jalan raya yang notabene merupakan jalan usaha tani. Luasnya lahan yang dimiliki dan terpusat pada satu tempat, membuat produktivitas pertanian Jepang sangat tingga serta mendapatkan manfaat besar pada saat musim panas menghasilkan prroduktivitas yang tinggi dapat menutupi saat-saat kurang produktif yaitu pada musim dingin dan gugur.
Peran Koperasi Pertanian
            Pemerintah Jepang saat ini hanya berfungsi sebagai pembuat peraturan dan mengluarkan kebijakan. Sedangkan aktivitas lapangan diambil alih banyak oleh Japan Agriculture Cooperative (JA Cooperative) atau di Indonesia sejenis dengan koperasi pertanian. JA Cooperative ini beranggotakan para petani-petani Jepang dengan tujuan membantu mengurangi kemiskian dan meningkatkan pendapatan petani. Sehingga pada saat ini, seluruh wilayah Jepang memiliki JA Cooperative yang secara umum memiliki tugas sebagai berikut:
• Mengumpulkan, mengangkut, dan mendistribusikan serta menjual produk pertanian
• Penyediaan sarana produksi
• Mengatur pengolahan produk pertanian dan penyimpanan produk
• Sebagai Bank
• Sebagai badan asuransi, dan
• Menyediakan sarana pelayanan kesehatan masyarakat khususnya petani
Jaringan Usaha yang Kuat
            JA Cooperative dalam menjalani fungsinya, telah menjalin jaringan kerjasama yang sangat besar dengan pasar-pasar local khususnya supermarket, pasar Internasional, dan pemerintah.  Selain itu JA Cooperative juga memiliki berbagai fasilitas pertanian yang tersebar di seluruh Jepang seperti Packaging center, Processing center, Pasar Saprodi, Pasar penjualan langsung (direct sale market), supermarket, Gudang, Penggilingan beras, Fasilitas pembuat pupuk organic, dll.
Distribusi Produk Pertanian yang terjamin
            Dengan adanya JA Cooperative beberapa peran penting dan crucial bagi petani telah diatasi terutama untuk pemasaran. JA Cooperative memberikan jaminan semua produk petani terjual dengan harga diatas rata-rata dan tentu saja ini memakmurkan petani.
Terdapat alternative distribusi dan pemasaran produk yang ditawarkan JA Cooperative  untuk para produsen petani, yaitu:
1)    Produk dibeli langsung oleh JA Cooperative dengan harga di atas harga pasar (khususnya produk tertentu yang dianggap vital);
2)    Petani dapat mendistribusikan sendiri namun melalui petunjuk (advise) dari JA Cooperative (biasanya petani ingin mencari buyer yang lebih tinggi lagi dari JA Coop,);
3)    Petani dapat menitipkan produk mereka kepada JA Coop. untuk dijualkan oleh JA Coop. (biasanya perlu waktu agak lama dan hanya untuk produk-produk yang tidak terlalu penting).

Fungsi Perbankan

Sistem distribusi Produk yang paling popular di Jepang adalah Produk dibeli langsung oleh JA Cooperative. Produk petani yang sudah dibeli oleh JA Coop. juga aman dari segi financial, karena uang hasil penjualan langsung masuk ke rekening Petani yang otomatis ada di JA Cooperative karena JA Cooperative juga berfungsi sebagai Bank.
Fungsi Bank yang dikelola oleh JA Cooperative kurang lebih sama dengan Bank komersial lainnya. Hanya saja nasabahnya adalah para petani. Bank JA Cooperative juga menyediakan pelayanan pinjaman modal untuk pengembangan usaha pertanian. Dan setiap surplus dari hasil penjualan produk pertanian diarahkan pada investasi dan perluasan usaha pertanian. Dengan demikian fungsi JA Coop. sebagai Bank sangat besar kontribusinya bagi kemajuan pertanian di Jepang.

Fungsi Jasa

Dalam menjalani tugasnya, JA Cooperative mempunyai peran dalam memberikan pelayanan penting  pada para petani diantaranya adalah dalam penyediaan dan penyaluran sarana produksi pertanian (termasuk peralatan mesin pertanian), memberikan asuransi produk pertanian, dan pelayanan kesehatan bagi petani.
Dengan pelayanan yang diberikan oleh JA Cooperative atas penyediaan sarana produksi pertanian, para petani mendapat kepastian atas keperluan usaha tani mereka, karena mereka tidak perlu bersusah payah mencari distributor atau tengkulak. Sementara itu terdapat asuransi produk yang sangat membantu petani dalam menjaga keselamatan produk mereka. Sedangkan fungsi pelayanan kesehatan petani merupakan suatu ide cemerlang yang menunjukkan betapa pemerintah Jepang dan JA Cooperative sangat menghargai dan menjamin kehidupan para petani mereka.

Subsidi Harga dari Pemerintah

Seperti di Indonesi, di Jepang pun banyak produk-produk luar seperti dari China yang harganya relative murah. Namun, dengan adanya hal seperti itu, pertanian Jepang tetap makmur bahkan meningkat. Karena selain peran JA Coop. yang begitu besar. Pemerintah juga memberikan subsidi harga jual untuk produk tertentu petani local.
Ketika produk petani di beli oleh JA Coop. (untuk produk tertentu) pemerintah telah mensubsidi ± 50% lebih tinggi dari harga pasar dan JA Coop. menjualnya kembali sama dengan harga pasar. Hal ini dilakukan ketika harga untuk produk yang sama dari luar harganya lebih murah. Dengan demikian petani Jepang tetap terlindungi dan produk mereka tetap terbeli oleh masyarakat. Dari mana datangnya subsidi tersebut? Tentu saja datang dari industri Otomotif, elektronik, jasa, dan sumber pemasukan lainnya yang tersedia yang dapat mensubsidi silang pertanian. Kita pasti sudah mengetahui bahwa Jepang sangat unggul dibidang otomotif dan elektronik dan pasar produk mereka ada di seluruh dunia.

Kebijakan Prioritas Pada Produk Lokal

Disamping pemerintah memberikan subsidi terhadap produk tertentu yang anggap vital (gandum, kentang, gula bit,dll) pemerintah Jepang dan JA Cooperative juga mengeluarkan kebijakan agar pasar local memprioritaskan produk local. Supermarket-supermarket dipastikan untuk menyediakan outlet khusus bagi para petani agar dapat melakukan direct sale produk mereka (namun tentu saja kualitas sudah bukan menjadi halangan).
Setiap outlet yang tersedia untuk produk petani local harus dilengkapi dengan photo dan data produsernya (Petani). Tujuannya adalah agar konsumen bisa lebih mengenal siapa yang menghasilkan produk tersebut.
Beberapa pasar memang dirancang khusus untuk para petani agar dapat menjual langsung produk mereka. Sebut saja Niseko Town Direct Sale Station yaitu sebuah pasar langsung di Kota Niseko (Hokkaido) yang khusus menyediakan outlet penjualan langsung untuk 60 petani. Tidak hanya itu para petani juga langsung memanajemen semua aktivitas mulai dari penentuan Harga (Bar Code), Labeling, dan Packaging. Hanya petugas kashir saja yang dilakukan oleh petugas khusus. Para petani akan mendapatkan informasi langsung melalui SMS atau internet tentang produk apa saja yang sudah laku atau produk mana yang permintaannya tinggi. Informasi tersebut bisa ditanya kapan saja, tergantung kebutuhan.

System manajemen Yang baik

Tidak lah Peran dan fungsi JA Cooperative berjalan sesuai rencana jika tidak dikendalikan dengan system manajemen yang baik. Mulai dari manajemen intern sampai manajemen yang terkait kerjasama dengan pihak pemerintah dan jaringan pasar. Hal sekecil apapun diperhatikan dan dipertimbangkan oleh pihak JA Cooperative untuk meningkatkan kinerja dan pelayanan mereka demi memakmurkan petani dan masyarakat Jepang. Di sisi lain, Pemerintah Jepang memahami benar bahwa meskipun sudah menjadi Negara industri maju, namun memandang pertanian sebagai salah satu penentu kemakmuran Jepang. Oleh karena itu, meskipun lahan pertanian Cuma menempati kurang dari 25% dari total areal Jepang namun Pemerintah Jepang sangat memperhatikan pengelolaannya.

Pertanian Organik, Agrowisata (Green Tourism), Konservasi Lingkungan

Konsep pembangunan pertanian di Jepang sejak tahun 1980 an sudah mengacu pada tiga hal pokok yaitu Pertanian organic, Green Tourism, dan Konservasi Lingkungan. Pertanian organic bertujuan untuk menghasilkan produk pertanian yang aman, berkualitas dan sehat bagi konsumsi. Pemerintah juga mengarahkan pembangunan pertanian tidak hanya untuk penyediaan pangan saja, melainkan sekaligus dapat menjadi objek wisata. Tidak heran bila sebagian besar kawasan pertanian di Jepang sangat menarik dan indah karena memang mereka sangat memperhatikan  penampilan di setiap lahan pertanian yang ada. Konsep pembangunan pertanian lainnya adalah pembangunan pertanian yang tetap menjaga kelestarian lingkungan. Konsep ini sangat erat kaitannya dengan pertanian organic. Kombinasi kedua konsep ini menyebabkan pertanian di Jepang lebih berkesinambungan (Sustainable Agriculture).
“Kemakmuran pertanian Jepang pada saat ini merupakan hal yang tidak mudah untuk digapai. Namun, dengan tekad yang kuat, kerja keras, serta disiplin yang mereka miliki, kejayaan pertanian Jepang pun dapat mereka rasaka saat ini. Indonesia memang tidak bisa menerapkan sistem pertanian yang sama dengan Jepang. Namun, kondisi alam dan iklim Indonesia jauh lebih beruntung dibandingkan dengan Jepang. Oleh sebab itu, harapan selalu ada. Dengan kerja keras, disiplin dan kesungguhan, kita dapat mewujudkan Pertanian Jaya!!”
Anton Setyo Nugroho
Staff Direktorat Pemberdayaan Masyarakat Pesisir DKP
Mahasiswa Doktoral di Saga University-Jepang
Oleh : Al findy Yuhibba Fitriah

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *