It’s A Plant Time Vol. 7b: BIOCHAR KOMPOS

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah mengupayakan penyediaan produk pangan yang aman dengan diciptakannya inovasi teknologi ramah lingkungan untuk diadopsi masyarakat petani secara luas. Adopsi teknologi ini akan mencukupi kebutuhan produk pertanian menyehatkan secara luas sehingga masyarakat dan generasi Indonesia akan sehat, cerdas, dan hebat.

Salah satu teknologi pertanian ramah lingkungan adalah teknologi remediasi melalui pemanfaatan limbah pertanian. Remediasi adalah kegiatan membersihkan permukaan tanah/lahan yang tercemar. Teknologi remediasi dikenalkan pada masyarakat luas untuk mengatasi lahan pertanian yang tercemar bahan kontaminan seperti pestisida dan logam berat. Biochar atau arang aktif yang dikombinasikan dengan kompos merupakan salah satu teknologi yang dapat minimalisir kontaminan pada produk pertanian.

Kombinasi limbah pertanian biochar tongkol jagung dan pupuk kandang (pukan) sapi atau ayam efektif sebagai bahan pembenah tanah untuk remediasi tanah sawah tercemar residu insektisida endosulfan. Hasil penelitian Harsanti menunjukkan aplikasi biochar yang dikombinasikan dengan kompos pupuk kandang (pukan) mampu mempercepat penurunan α-endosulfan sekitar 66,5 persen pada biochar, pukan ayam (1:4), serta 70,9 persen pada biochar pukan sapi (1:4). 

Dengan kombinasi yang sama, dapat meningkatkan tanaman padi dari 4,3 persen hingga 13,1 persen. Pemberian biochar dikombinasikan kompos pupuk kandang juga meningkatkan hasil biomassa sawi sekitar 5,5 persen sampai 26,2 persen.  Biochar merupakan suatu pilihan sederhana untuk mengurangi dampak pengunaan pestisida pada tanah. Biochar adalah substansi arang kayu yang berpori dan berasal dari limbah pertanian, sering juga disebut charcoal atau agri-char. Karena berasal dari mahkluk hidup maka dapat disebut arang hayati.

Penambahan biochar ke dalam tanah membantu agar unsur hara dapat terserap dengan baik oleh tanaman, memperbaiki struktur tanah dan aktivitas mikroba yang secara tidak langsung memperbaiki ketersediaan hara esensial bagi pertumbuhan tanaman, bahkan dapat menahan dan menjadikan air dan nutrisi lebih tersedia bagi tanaman. Dalam jangka panjang biochar tidak akan mengganggu keseimbangan karbon-nitrogen.

Biochar yang dipadukan dengan pupuk nitrogen akan mengurangi kehilangan hara nitrogen dari tanah yang berarti meningkatkan efisiensi pupuk nitrogen. Selain itu, pemberian biochar ke dalam tanah sawah dapat meningkatkan jumlah bakteri dan bakteri fiksasi nitrogen (Azotobacter), terutama di sekitar akar tanaman pangan.

Dilansir dari tribunnews.com narasumber Elis (48 tahun) menuturkan bunga kol yang dibeli dari KP Balingtan awet dan tetap segar disimpan dalam kulkas selama 3 minggu. “Bunga kol yang saya beli di KP Balingtan dapat bertahan hingga 3  minggu dalam lemari pendingin. Padahal biasanya kalau beli dari pasar umum sekitar 6 hari sudah benyek dan kusam,” tutur Elis.Biochar pukan juga dikenalkan pada salah satu kelompok wanita tani perkotaan di Pati. Mereka menerapkan teknologi tersebut untuk bertanam sayuran seperti cabai, tomat, terong, bayam, dan seledri tanpa pestisida kimia. “Tomat hasil panenannya awet, tetap segar dan renyah disimpan dalam waktu lama,” tutur Nurhayati salah seorang anggota kelompok wanita tani. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa produk pertanian yang ramah lingkungan, dapat memberikan penampilan yang baik, awet, serta sehat dikonsumsi.

http://jitunews.com/read/4559/biochar-limbah-hayati-solusi-pencemaran-pada-tanah#ixzz5TLXFrB2W

https://nasional.tempo.co/read/1105755/sayuran-sehat-segar-dan-awet-berkat-biochar-kompos/full&view=ok

http://metrobali.com/sayuran-sehat-segar-dan-awet-berkat-biochar-kompos/

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *