It’s A Plant Time Vol. 1: Industry 4.0 for Agricultural Apps

Aplikasi Pertanian yang Dikembangkan di Beberapa Negara Asia dan Afrika

Indonesia merupakan salah satu negara agraris terbesar di dunia setelah Brazil, dari 27% zona tropis di dunia, Indonesia memiliki 11% wilayah tropis yang dapat ditanami dan dibudidayakan setiap tahunnya. Luasnya wilayah dan lahan yang dapat ditanami ini menempatkan Indonesia berada pada posisi nomor 10 di dunia. Menurut World Bank, Indonesia berada pada cakupan luas wilayah 1,905 km² dan luas lahan yang dapat ditanami seluas 241,880 km² (total 12%) dan sisanya merupakan perbukitan/pegunungan, dan lain-lain . Sektor ini menyumbang 14,9% dari Produk Domestik Bruto (PDB) dalam kurun waktu 2010-2013 . Berdasarkan data tersebut dapat dikatakan bahwa pertanian merupakan bidang yang sangat berpengaruh bagi pergerakan roda perekonomian nasional. Melihat besarnya pengaruh 19 sistem 19 terhadap perekonomian nasional dan kesejahteraan masyarakat maka strategi untuk meningkatkan produktifitas dan kualitas hasil pertanian menjadi sangat penting. Peningkatan produktifitas ini akan memicu pada peningkatan kesejahteraan masyarakat tani. Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dapat menjadi salah satu strategi untuk mewujudkan hal tersebut. Penerapan sistem informasi (SI) pada bidang pertanian sudah dilakukan oleh banyak negara agraris seperti Kenya , Croatia , China , dan di bawah lembaga National Agricultural Research System [6]. Penerapan teknologi informasi di negara – negara tersebut memberikan kontribusi terhadap peningkatan produktifitas hasil pertanian yang berdampak pada peningkatan pendapatan petani.

A. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dan Pertanian

Teknologi informasi dan Komunikasi (TIK) merupakan perangkat, tool, atau aplikasi yang mendukung proses pengumpulan, pengolahan dan penyimpanan dan pertukaran data . Evolusi telepon genggam menjadi smartphone memperluas proses penetrasi TIK pada berbagai bidang kehidupan. Hal ini juga didukung oleh berkembangnya infrastuktur teknologi yang membuat perangkat ini mampu menjangkau area yang lebih luas. Saat ini banyak dijumpaiberbagai aplikasi berbasis TIK pada perusahaan, organisasi, hiburan, kesehatan, pemerintahan, media, pendidikan dan bidang-bidang lainnya. Pertanian sebagai salah satu sektor yang mendukung perekonomian suatu negara khususnya negara agraris juga tidak luput dari pengaruh teknologi tersebut. Pertanian dalam arti luas dapat didefinisikan sebagai aktifitas yang berhubungan dengan budidaya dan pengelolaan tanaman dan hewan ternak untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia [8]. Sektor pertanian berhadapan dengan tantangan utama yaitu bagaimana meningkatkan produksi untuk mendukung pertumbuhan dan bagaimana meningkatan kesejahteraan masyarakat petani dalam situasi dan kondisi semakin berkurangnya ketersediaan sumber alam.e-Agriculture dan m-Agriculture

B. e-Agriculture dan m-Agriculture

Sistem informasi pertanian dibedakan menjadi 2 kategori, yaitu e-Agriculture dan m-Agriculture . Terdapat beberapa pemahaman mengenai definisi e-agriculture diantaranya e-agriculture dipahami sebagai 1) informasi yang berhubungan dengan pertanian; 2) teknologi atau tools untuk informasi dan komunikasi; 3) berbagai jenis informasi pertanian; 4) semua stakeholder yang akan mendapatkan keuntungan dari pertanian; dan 5) keuntungan yang dapat dirasakan bidang pertanian dari penerapan aplikasi TIK . Dalam penerapannya eAgriculture dapat berupa 20 sistem informasi geografis, penginderaan jarak jauh, dan berbagai macam peralatan nirkabel . Sementara itu m-Agriculture merupakan bagian dari eAgriculture, namun m-Agriculture menerapkan platform teknologi yang berbeda. Layanan m-Agriculture memiliki beberapa agen yang ada di dalam aplikasi tersebut. Selain itu, mAgriculture juga bekerja sama dengan penyedia jasa telekomunikasi untuk memberikan layanan konten. Melalui teknologi ini petani dapat mengirimkan pesan dan dapat berkomunikasi langsung dengan pedagang .

Penerapan Teknologi Informasi Pertanian di Asia

1) Agriinfo (China)

Aplikasi yang dikembangkan terkait dengan layanan teknologi Informasi dan Komunikasi di bidang pertanian adalah pengembangan aplikasi AgriInfo. AgriInfo merupakan salah satu 20sistem informasi pertanian berbasis call center di China Salah satu tujuan utama dalam pengembangan AgriInfo ini adalah kebutuhan untuk melakukan adopsi terhadap salah satu teknologi informasi dan komunikasi sehingga mampu untuk mengambil informasi yang sesuai saat sistem dan internet tidak tersedia . AgriInfo dikembangkan terkait dengan ketersediaan akses terhadap internet yang masih kurang di beberapa daerah. Selain itu, di dalam penelitiannya, Wen, dkk  menyebutkan bahwa peralatan yang cocok untuk dikembangkan adalah telepon. Petani cenderung memiliki akses yang lebih banyak menggunakan telepon dibandingkan dengan penggunaan media internet . Di dalam penelitiannya, Wen, dkk  menggunakan teknologi cerdas yang diimplementasikan sebagai modul proses bebas yang melakukan pertukaran informasi dan menjalankan beberapa fungsi yang terpisah sebagai pemecahan masalah.

2) Mobile Driven Extension (India)

Mobile Driven Extension yang diterapkan di India dan Kenya [10], memanfaatkan TI untuk mendukung kolaborasi antara pemerintah, lembaga penelitian, universitas, dan petani melalui sebuah jaringan internet. Model ini didukung oleh pendekatan Pusat Panggilan (Call Centre). Melalui pendekatan ini petani menghubungi tele-centre dan selanjutnya mereka akan dihubungkan dengan seorang agen yang akan menjawab pertanyaan yang mereka ajukan. Agen dapat menyediakan informasi penting yang berhubungan dengan proses pertanian seperti penanaman, irigasi, penanganan penyakit, dan persoalanpersoalan lainnya. Lembaga penelitian, pemerintah dan universitas dapat membangun dan memperbaharui pengetahuan yang dapat diakses agen agar dapat membantu menyelesaikan persoalan yang dihadapi petani.

3) IFFCO Kisan (India)

Indian Farmers Fertiliser Cooperative (IFFCO) Kisan Sanchar Limited merupakan sebuah organisasi yang aktifitas utamanya adalah melakukan pelayanan berbasis ilmu dan teknologi kualitas hidup masyarakat pedesaan di India. Organisasi ini sangat penting bagi jutaan petani di India. IFFCO memiliki layanan yang dinamai Value Added Service (VAS). Saat ini terdapat 5 layanan utama dari IFFCO Kisan, yaitu Free voice Message, Helpline, Call Back Facilitity, Mobile Phone Applications, dan Focused Communities. Figure 3 merupakan gambar layanan yang disediakan IFFCO Kisan. Free Voice Message merupakan layanan yang diberikan melalui telepon genggam. Layanan ini setiap harinya memberikan lebih dari 4 pesan suara secara gratis ke pengguna. Setiap pesan berdurasi satu menit. Pesan berisi berbagai informasi penting yang antara lain berhubungan dengan soil management, ramalan cuaca, informasi cuaca berkaitan dengan aktifitas pertanian, manajemen tanaman, perlindungan tanaman, harga pasar, dan peternakan. Pesan suara yang disampaikan berasal dari pakar. Pesan yang disampaikan diharapkan dapat membantu pengguna (petani) dalam pengambilan keputusan.

B. Penerapan Teknologi Informasi Pertanian di Afrika

1) Kebijakan Penerapan Teknologi Informasi di Tanzania

Seperti halnya dengan negara – negara di Asia, negara – negara di Afrika juga melakukan beberapa inovasi dalam melakukan penerapan Teknologi Informasi di 22 sistem pertanian. Salah satu negara yang melakukan inovasi tersebut adalah Tanzania. Tanzania melalui penelitian nasional dan pengembangan kebijakan (NRDP) mendorong komersialisasi dan diseminasi hasil penelitian. Beberapa pemikiran utama adalah di bidang inovasi teknologi informasi di bidang pertanian . Dengan adanya peran dari berbagai pihak, dapat membantu petani dalam memberikan akses kepada berbagai pihak, khususnya terkait dengan informasi di bidang pertanian. Tabel 1, menunjukan peran dari masing – masing pihak terkait dengan pengembangan teknologi informasi pertanian di Tanzania.

2) Community Knowledge Worker (Uganda)

Community Knowledge Worker (CKW) merupakan sebuah komunitas yang didirikan sejak 2009 di Uganda. Komunitas ini sudah berkembang di Ghana (2013), Colombia (2015) dan Philipina (2015). Komunitas ini berfungsi sebagai penghubung antara petani miskin di daerah terpencil dengan berbagai stakeholder di bidang pertanian. CKW memberikan dukungan data dan informasi yang cepat dan akurat bagi petani untuk mengembangkan bisnis dan meningkatkan kesejahteraan mereka. Komunitas ini beroperasi melalui kombinasi antara jaringan antar manusia dan jaringan berbasis teknologi informasi terutamanya teknologi mobile menggunakan smartphone. Aplikasi yang digunakan oleh CKW merupakan aplikasi berbasis mobile yang dibangun oleh Grameen Foundation. Grameen Foundation merupakan sebuah yayasan yang membantu memberikan penguatan bagi masyarakat miskin melalui informasi dan peralatan yang tepat agar mereka dapat mengoptimalkan potensi yang mereka miliki [17]. Saat ini terdapat 3 aplikasi mobile yang dibangun oleh CKW yaitu CKW. CKW Search merupakan sebuah aplikasi yang memfasilitasi anggota CKW untuk mengirimkan pertanyaan seputar pertanian. Jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan berasal dari tim ahli yang disediakan oleh CKW. Aplikasi berikutnya adalah CKW Surveys. CKW Surveys merupakan aplikasi yang berfungsi untuk menghimpun informasi mengenai petani. Aplikasi ini digunakan untuk pendaftaran anggota CKW. Aplikasi ketiga adalah CKW Pulse. CKW Pulse merupakan aplikasi yang dibangun oleh CKW bagi anggotanya agar mereka bisa mengetahui informasi mengenai aktifitas mereka.

C. Tantangan, Peluang, dan Manfaat Pengembangan Aplikasi Pertanian di Indonesia

Penetrasi teknologi Informasi (TI) dalam berbagai bidang kehidupan merupakan sesuatu yang tidak dapat dicegah. Demikian juga halnya dengan penerapan TI di bidang pertanian. Indonesia sebagai salah satu negara agraris di dunia harus mampu beradaptasi dengan cara mengadopsi atau mengembangkan aplikasi berbasis TI untuk mendukung bisnis pertanian yang dijalankan sebagian besar penduduk Indonesia. Pada bagian sebelumnya penulis sudah mengulas beberapa bentuk aplikasi berbasis TI yang digunakan di beberapa negara di Asia dan Afrika. Berikut ini penulis akan memaparkan tantangan, peluang dan manfaat jika Indonesia ingin untuk mengembangkan sistem informasi atau aplikasi di sektor pertanian.

1) Tantangan

Untuk dapat sepenuhnya mengadopsi teknologi informasi (TI) di bidang pertanian, Indonesia menghadapi tantangan terkait kesiapan sumber daya manusia dalam hal ini petani dan kesediaan infrastuktur teknologi yang dapat menjangkau masyarakat di pedesaan. Untuk meningkatkan kemampuan petani dalam penggunaan perangkat dan aplikasi TI dibutuhkan proses pendampingan yang terus menerus dan berkelanjutan. Proses pendampingan juga harus mengarah ke perubahan pola komunikasi yang semula hanya konvensional menjadi pola komunikasi hybird, gabungan antara pola konvensional dan komunikasi berbasis TI. Pola ini mirip dengan yang dijalankan oleh Community Knowlegde Worker (CKW) di Uganda [17]. Sementara itu untuk tantangan kesediaan infrastuktur TIK utamanya internet harus diselesaikan melalui program berkelanjutan dari pemerintah untuk membangun infrastuktur teknologi yang tentu saja hal ini juga harus didukung oleh berbagai pihak yang berkepentingan antara lain pihak penyedia jaringan TIK, operator penyedia layanan komunikasi dan akademisi.

2) Peluang

Di samping tantangan Indonesia juga memiliki beberapa peluang terkait kemungkinan penerapan TIK di bidang pertanian. Peluang tersebut meliputi pengunaan perangkat TIK dalam hal ini smartphone yang telah meluas, adanya perhatian pemerintah untuk membangun jaringan internet, tingginya peran sektor pertanian di Indonesia, dan banyaknya jumlah rumah tangga di Indonesia yang bergerak di sektor pertanian.

Meskipun sampai saat ini pengguna smartphone di Indonesia masih kalah dengan negara Asia lainnya seperti China, India, Singapore, dan Hongkong, namun diperkirakan pada tahun 2018, jumlah pengguna smartphone di Indonesia akan mencapai 100 juta orang. Nilai ini akan menjadi nilai terbesar keempat setelah China, India, dan Amerika [19]. Kondisi ini akan menjadi peluang yang sangat besar untuk bertumbuhnya berbagai bisnis online di Indonesia termasuk bisnis di bidang pertanian.

Perhatian pemerintah dalam memperluas penetrasi internet juga menjadi salah satu peluang bagi pengembangan sistem informasi atau aplikasi untuk mendukung bisnis pertanian. Adanya perhatian dan program pemerintah untuk memperluas akses terhadap jaringan internet di berbagai daerah tentu saja akan sangat mendukung fungsionalitas perangkat TIK yang telah dimiliki oleh masyarakat. Harapannya program ini bisa terus berjalan sehingga penetrasi internet dapat menjangkau setiap desa di Indonesia. Dua peluang penting lainnya di dalam penerapan Aplikasi di bidang pertanian adalah besarnya peran sektor pertanian dalam perekonomian nasional dan besarnya jumlah rumah petani di Indonesia. Sampai dengan tahun 2013, sektor pertanian menyumbang 14,9% dari Produk Domestik Bruto (PDB) [2]. Hal ini berarti sektor pertanian merupakan salah satu sektor penting yang mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah.

Dengan tingginya produktifitas pertanian di Indonesia mengindikasikan bisnis di bidang pertanian akan terus berjalan dan berkembang. Jumlah rumah tangga tani pada tahun 2013 mencapai lebih dari 26,14 juta rumah tangga [20]. Data ini mengindikasikan bahwa sebagian besar penduduk Indonesia sangat tergantung pada sektor pertanian. Jika kondisi ini dihubungkan dengan prediksi penggunaan smartphone di Indonesia maka dapat dikatakan bahwa dalam 4 tahun ke depan hampir semua rumah tangga tani akan memiliki sebuah smartphone sebagai sarana komunikasi sehari-hari. Hal ini berarti petani telah memiliki ketersediaan perangkat untuk menggunakan aplikasi pertanian berbasis TI.

3) Manfaat

Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di sektor pertanian memberikan banyak manfaat yaitu:

(1) TIK dapat meningkatkan hasil produksi;

(2) TIK bisa mengurangi resiko dalam bisnis pertanian;

(3) TIK dapat mendukung optimalitas keuntungan bagi petani;

(4) TIK dapat meningkatkan efektifitas dalam berbagi informasi dan komunikasi antar stakeholder di bidang pertanian;

(5) TIK meningkatkan kemampuan tawar (bargaining power) petani; dan

(6) TIK mendukung pertanian yang ramah lingkungan. Penerapan TIK dapat meningkatkan hasil produksi produk pertanian. Hal ini dapat didukung melalui proses penanaman atau pengolahan lahan dan produk pertanian dengan benar. TI menghubungkan petani kepada akses informasi mengenai bibit tanaman yang unggul atau cara pengolahan lahan yang lebih baik sehingga lahan pertanian dapat memberikan hasil yang maksimal. Peningkatan produktifitas hasil pertanian akan memberikan peluang ekspor produk pertanian sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani.             

Manfaat kedua dari penerapan TIK pada sektor pertanian adalah TI mampu mengurangi resiko dalam bisnis pertanian. Melalui pertanian presisi, TI dapat melakukan berbagai prediksi dengan lebih akurat. Berbagai sistem pendukung keputusan dan sistem pakar dapat dikembangkan untuk mendukung petani dalam proses pengambilan keputusan. Dengan demikian tingkat resiko selama proses penanaman, pemeliharaan, dan penjualan produk hasil pertanian dapat diminimalisir.

Manfaat ketiga terkait keuntungan yang didapatkan petani dalam bisnis pertaniannya. Melalui dukungan TIK petani dapat melakukan efisiensi pembiayaan melalui pembelian berbagai sarana dan sumber daya pertanian seperti bibit, pupuk, dan peralatan pendukung dengan harga yang murah namun tetap memiliki kualitas yang baik.

Melalui internet petani akan dapat mengakses informasi harga dari berbagai sumber, sehingga mereka dapat menentukan pilihan yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka. Melalui TIK petani juga dapat melakukan penawaran produk hasil pertanian mereka dengan harga yang kompetitif. Petani dapat langsung berhubungan dengan pelanggan tanpa harus melalui pihak ketiga. Model penjualan produk ini sudah dilaksanakan di India melalui sistem EChoupal [13]. Manfaat keempat dari penerapan TIK adalah efektifitas komunikasi dalam berbagi data, informasi, dan pengetahuan antar stakeholder di bidang pertanian.

Berbagai sistem telah dikembangkan oleh beberapa negara untuk mendukung kebutuhan ini. Salah satunya adalah Community Knowledge Worker (CKW) di Uganda [17]. Melalui komunitas dalam jaringan yang terbentuk, petani akan dapat berhubungan langsung dengan berbagai pihak yang dapat membantu mereka dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Komunitas online juga dapat memberikan informasi berkala tentang berbagai hal seperti informasi cuaca, harga, teknik pertanian baru, dan cara penanggulangan hama dan penyakit tanaman.

Manfaat lain yang penting dari penerapan TIK adalah meningkatnya kemampuan tawar (bargaining power) dari petani. Melalui TIK petani akan memiliki jejaring yang lebih luas. Mereka akan memiliki akses ke berbagai pihak yang berkepentingan dan mereka akan mendapatkan informasi dan pengetahuan yang dapat mendukung kepercayaan diri dan kemampuan menawar produk pertanian dengan lebih baik. Manfaat keenam dari penerapan TIK adalah terciptanya pertanian yang ramah lingkungan. Melalui dukungan dari berbagai pihak, pelaku bisnis pertanian akan dapat menjalankan bisnis mereka dengan tetap mempertimbangkan keselamatan lingkungan. TIK dapat mendukung penyebaran informasi dan pengetahuan mengenai berbagai teknik pertanian ramah lingkungan, tingkat penggunaan pupuk yang aman lingkungan dan keuntungan dari pertanian ramah lingkungan. Penerapan pertanian moderen berbasis pada TIK akan berdampak pada peningkatan produktifitas pertanian, pembangunan sosial dan ekonomi masyarakat.

Kesejahteraan masyarakat akan meningkat dan kualitas hidup masyarakat tani akan menjadi lebih baik. TIK juga mengubah cara hidup masyarakat tani sehingga mereka menjadi lebih percaya diri dan sulit untuk dieksploitasi oleh pihak lain. Pertanian moderen yang ramah lingkungan akan membuat lahan-lahan pertanian di Indonesia tetap terjaga kualitasnya sehingga dapat terus dimanfaatkan oleh generasi berikutnya. Pada akhirnya sektor pertanian akan menjadi salah satu bidang pekerjaan yang menjanjikan sehingga banyak diminati oleh generasi muda Indonesia

Sumber: https//journal.uii.ac.id

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *