It’s A Plant Time Vol. 2 Underwater Agriculture (Nemo’s Garden)

Melansir Vice 11  Agustus 2015, sekelompok teknisi yang bernama Ocean Reef Group  membuat taman bawah laut yang bernama Nemo’s Garden. Pada tahun 2019 ini Nemo’s Garden mencapai tahun yang ke-7. Mereka mengklaim Nemo’s garden dapat menunjang budidaya tanaman secara berkelanjutan. Tanaman ditumbuhkan di dalam tempat yang berupa plastik yang diisi udara, kemudian ditanam seperti layaknya di daratan. Artinya, tetap menggunakan media-media  seperti tanah dll (tanaman terestrial). Dalam budidaya Nemo’s Garden, suhu tidak menjadi masalah karena suhu di bawah laut cenderung stabil. Jika ada kenaikan suhu, akan kembali turun dengan cepat. Pada Nemo’s Garden tidak ditemukan infeksi OPT maka tidak diperlukan pestisida. Saat air laut menguap, uap air akan melingkupi balon plastik dan menciptakan kondisi yang lembab bagi tanaman. Tanaman menjadi mudah mendapatkan suplai air. Selain itu, lingkungan lautan juga menjaga biosfer dari serangan patogen dan perubahan iklim.

Kajian tentang Nemo’s Garden bersama anggota HIMAGRO Retusa memunculkan beberapa pertanyaan diantaranya tentang pemeliharaan nemo’s garden, pengairan, keterbatasan komoditas yang dapat ditanam, hingga keseimbangan ekosistem laut terutama untuk aplikasinya di Indonesia.  Nemo’s Garden dianggap terlalu mahal untuk diterapkan di negara berkembang seperti Indonesia. Selain itu perlu kajian lebih lanjut dan perencanaan yang matang dalam mengaplikasikan underwater agriculture ini di berbagai wilayah yang berbeda. Wilayah Indonesia yang berada dalam Ring of Fire dan pertemuan beberapa lempeng menimbulkan pertanyaan bagaimana cara mengaplikasikan underwater agriculture di wilayah yang rawan bencana alam.

Selain cara untuk mengaplikasikan nya di Indonesia, yang menjadi persoalan selanjutnya adalah tanaman yang dapat ditanam di Nemo’s Garden terbatas pada tanaman semusim terutama hortikultura karena ruang yang terbatas mengingat tanaman tahunan bisa mencapai tinggi belasan meter. Sedangkan, tanaman hortikultura sendiri sekarang ini sudah banyak dibudidayakan pada lahan sempit (Urban Farming) dengan sistem hidroponik. Oleh karena itu, kebutuhan akan underwater agriculture masih belum terlalu mendesak di Indonesia sendiri sedangkan di sisi lain pengembangan Urban Farming juga belum optimal. Lalu untuk pemeliharaan dan pengairan Nemo’s Garden sendiri juga memerlukan teknologi tingkat tinggi dan ilmu yang mumpuni, juga tentunya biaya yang besar.

Kesimpulan Underwater Agriculture merupakan inovasi untuk mendukung pertanian berkelanjutan. Namun, perlu penelitian lebih lanjut untuk aplikasinya di berbagai negara berkembang dengan kondisi yang berbeda.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *