It’s A Plant Time Vol. 4 Resolusi Pertanian Nasional

-Resolusi Pertanian Nasional-

Revolusi teknologi informasi yang ditandai dengan berkembangnya internet melalui sistem aplikasi android berdampak pada berbagai lini perubahan cara hidup manusia, termasuk berdampak pada perubahan pola usaha dibidang pertanian. Indonesia sebagai negara agraris dengan kekayaan alam yang sangat subur, tanahnya bisa ditanami apa saja.

Tetapi, keadaan kekayaan alam yang subur ini faktanya sangat ironis. Nyatanya Indonesia belum bisa lagi swasembada pangan. Kenyataan ini memang tidak bisa dihindari, walaupun masih ada jalan bahwa Pertanian Nasional adalah salah satu cara untuk mensejahterakan mayoritas rakyat Indonesia.

Fakta-fakta pertanian sedang menghadapi masalah krusial, diantaranya sulitnya mendapatkan tenaga kerja pertanian, karena buruh tani yang semakin langka akan berpengaruh pada semakin mahalnya upah kerja pertanian, tentu tidak sebanding dengan hasil pertanian. Lahan pertanian semakin sempit, karena tergerus oleh kebutuhan perumahan dan pembangunan pabrik-pabrik yang menyerobot zona-zona merah lahan pertanian. Harga jual hasil pertanian terutama di bidang tanaman pangan dan hortikultura yang penuh spekulasi dan akhirnya menyebabkan gagal harga saat panen.

Salah satu langkah yang harus dilakukan adalah adanya regenerasi petani. Pemerintah seharusnya terus mendukung komunitas-komunitas atau anak-anak muda yang fokus terhadap pertanian, seperti sebagai contoh adalah Gerakan Petani Muda (Gempita) atau mengoptimalkan Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) yang struktur organisasinya sudah ada. 

Permasalahan kesulitan tenaga kerja pertanian, upah kerja pertanian yang mahal, saat panen gagal harga yang membuat petani merugi, rantai distribusi pemasaran yang panjang yang terurai dari mulai calo, bandar kecil, bandar besar (pengepul), pasar induk, centeng, pasar daerah, pedagang tumpah, warung eceran dan baru sampai ke konsumen (masyarakat). Masalah ini yang membuat profesi petani tidak menarik bagi anak-anak muda. Dan petani milenial bisa menjawab permasalahan-permasalahan tersebut diatas.

Apa yang disebut petani milenial itu? Petani milenial adalah petani yang berusia 19-39 tahun atau yang berjiwa milenial yang adaptif dalam pemahaman teknologi digital, sehingga tidak kaku dalam melakukan identifikasi dan verifikasi teknologi. petani milenial yang jiwanya sudah bersentuhan dengan industri start-up, sangat berbeda jauh dengan petani dulu yang bertani dengan cara tradisional.

Apa saja yang bisa dijawab oleh petani milenial? Pertama, petani milenial bisa memotong rantai distribusi pemasaran yang panjang menjadi lebih pendek yaitu dari mulai produsen (petani) lalu ke pihak kedua dan bisa langsung sampai ke konsumen. Petani milenial diberi kemudahan dengan adanya pasar  online dimulai dari Toko Online (OLShop), E-Commerce dan Marketplace (swalayan online), peran Pemerintah cukup menjadi support sistemnya dan membuka akses seluas-luasnya bagi calon petani milenial. Pola pemutusan rantai distribusi yang pendek akan berefek pada stabilitas harga, bisa meminimalisir gagal harga dan petani tidak terlalu dirugikan. Kedua, permasalahan sulitnya tenaga kerja pertanian dan mahalnya upah kerja pertanian bisa dijawab dengan alih teknologi pertanian yang hanya bisa dilakukan oleh petani milenial, seperti mencangkul di sawah dari mulai pengolahan lahan, menanam dan panen sudah menggunakan mesin, atau mencangkul di kebun sudah dengan mesin, sehingga tenaga kerja yang sedikit akan terantisipasi dan bisa menekan biaya produksi.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *