“PERTANIAN” si ujung TOMBAK, di ujung TANDUK

       Penyataan tentang pertanian seperti judul diatas begitu sangat miris untuk saya saat membacanya. Mengapa demikian? Pertanian merupakan suatu asset besar dalam suatu negara untuk dapat meningkatkan perekonomian negara, khususnya dalam menjalankan kedaulatan pangan. Ir. Soekarno pada tahun 1952 pernah mengatakan “…Indonesian people in the near future will suffer from misfortune, disaster, if the problem of people’s food will not be solved immediately, whereas the problem of people’s Availability stocks is about alive or dead, … Bear in mind, once more bear in mind, if we do not “bear in mind” the problem of people food as highty as is possible, radically and revolutionarily, we will suffer from great disaster.”, ini merupakan suatu pandangan futuristik yang dapat dikaitkan dengan keadaan suatu negara yang bilamana tidak peduli akan produksi pangannya maka sama dengan menghancurkan negaranya. Pemikiran Presiden Soekarno ini pun sangat berkatian dengan penelitian yang dihasilkan dari seorang ekonom Inggris klasik tahun 1798 yaitu Robert Malthus yang menyatakan bahwa “…food supplies can increase only in a simple arithmetical progression, populations can increase by geometric progression..”. Dengan demikian bahwa kondisi sektor pertanian, peternakan dan perikanan dimasa depan dapat menjadi landasan utama dalam meningkatkan ekonomi di suatu negara.

PERTANIAN SEBAGAI “PENYELAMAT” BANGSA

            Sejak jaman prasejarah sampai saat ini faktor pertanian dapat menjadi faktor utama perpecahan dalam suatu negara ataupun antar negara. Catatan terbesar dampak dari krisis produksi pertanian terjadi pada tahun 1933, yaitu terjadi krisis pangan hebat di Ukraina, dimana krisis pangan itu menyebabkan sekitar 25.000 orang tiap harinya meninggal dunia akibat keterbatasan pangan yang dibatasi tentara Rusia. Hal ini secara tidak dapat berdampak terhadap kerusakan ekonomi negara dan kemanan negara tersebut. Selain itu, pada tahun 2008 seperti yang dilansir oleh Kompas, terjadi krisis pangan hebat di Mesir, Bangladesh, dan Yaman yang mengakibatkan kerusuhan besar terjadi diantara negara tersebut, sehingga terjadi keruntuhan ekonomi di ketiga negara tersebut.
            Mengacu pada judul artikel diatas, pertanian di Indonesia dapat dikatakan sebagai ujung tombak perekonomian Indonesia, dimana pada saat krisis ekonomi pada tahun 1997, sektor pertanian lah sebagai salah satu penyelamat dalam perekonomian Indonesia. Selain dapat menyediakan lapangan kerja yang luas, sektor pertanian pun dapat menjadi penopang untuk mempertahankan devisa negara. Dengan besarnya persentase Produk Domestik Bruto (PDB) di sektor pertanian pada saat itu, maka kesejahteraan penduduk Indonesia pun masih dapat terpenuhi.
            Menurut para pemikir ekonom pembangun, sektor pertanian memiliki peranan yang besar dalam perekonomian, terutama pada tahap-tahap awal pembangun (Lewis, 1954; Kuznets, 1964). Sektor pertanian yang dapat berkembang dan mampu menghasilkan surplus yang besar merupakan prasyarat untuk memulai transformasi ekonomi. Pada tahap awal transformasi ekonomi, pertanian berperan penting dalam beberapa cara. Pertumbuhan yang cepat dalam sektor pertanian akan mampu meningkatkan kesejahteraan penduduk dalam negara tersebut yang pada waktu yang bersamaan akan meningkatkan permintaan terhadap barang dan jasa yang dihasilkan dari sektor non-pertanian. Oleh karena itu, sejalan dengan berkembangnya sektor pertanian dapat pula berdampak positif terhadap perkembangan di sektor-sektor lainnya yang secara tidak langsung akan menunjang pertumbuhan ekonomi dalam suatu negara.

PEMANASAN GLOBAL DAN SOLUSI SISTEM PERTANIAN INDONESIA

            Peningkatan suhu bumi yang terjadi belakang ini dapat memicu perubahan iklim secara global. Kondisi iklim yang tidak menentu seperti saat ini dapat berdampak besar bagi kelangsungan pertanian dunia. Dimana dampak yang sangat berpengaruh terhadap pertanian khususnya adalah terjadinya perubahan pola curah hujan dan pergeseran musim. Maka dapat dipastikan akan banyak sekali terjadi kasus kegagalan panen dibelahan bumi manapun.
            Para ahli mengatakan bahwa pemanasan global yang berakibat perubahan iklim ini terjadi sebagai efek dari emisi Gas Rumah Kaca (GRK), seperti metana, nitrat oksida,hidrofluorokarbon, perfluorokarbon, dan heksafluorida. Belum lagi pabrik-pabrik pembangkit listrik dan kendaraan berbahan bakar minyak akan senantiasa menghasilkan gas buang berupa karbondioksida (CO2). Oleh karena itu, semakin berkembang pesatnya perindustian atau indutrialisasi dan transportasi modern akan memacu kenaikan konsentrasi CO2 dan gas-gas rumah kaca di atmosfer (Guntoro, 2011).
            Dampak dari perubahan iklim ini selain kegagalan panen dalam sektor pertanian dan peternakan dapat pula mengakibatkan ledakan hama dan penyakit yang sangat hebat dan senantiasa akan mengancam berbagai jenis tanaman dan ternak di dunia. Selain itu, dengan meningkatnya suhu air laut akan menyebabkan banyak lahan-lahan di sekitar pesisir pantai terendam saat pasang sehingga kadar garam tanah pun akan meningkat. Keadaan ini pun dapat mengancam kehidupan nelayan yang memiliki kesempatan untuk melaut kini dirasakan akan semakin sulit (Guntoro, 2011).
            Sebenarnya saat ini sudah banyak hasil penelitian yang memiliki prospek untuk dikembangkan sebagai solusi guna menekan dampak dari perubahan iklim tersebut. Teknologi yang dapat dikatakan memiliki inovasi hebat diantaranya penemuan beberapa varietas komoditas pangan (seperti padi, gandum, kedelai dan lainnya) yang tahan terhadap dampak perubahan iklim, jenis beberapa komoditas pokok yang tahan hama dan penyakit, teknologi irigasi dan drainase, komposisi pakan ternak rendah emisi GRK, serta teknologi dalam pengolahan limbah (Guntoro, 2011). Namun, jika suatu paket teknologi tersebut diaplikasikan secara parsial maka teknologi yang digunakan hasilnya akan dirasakan kurang optimal.
            Saat ini di beberapa negara maju sudah mulai menekankan pendekatan sistem budidaya pertanian dengan hanya berorientasi pada penerapan teknologi maju (Techno-farming). Sistem pertanian dengan menerapkan teknologi maju ini memang terbukti dapat meningkatkan produktivitas beberapa komoditas pertanian. Namun, dampak dari pertanian yang hanya terfokus pada teknologi maju saja akan berakibat pada aspek lingkungan yang cenderung tidak diperhatikan. Penggunaan pupuk dan pestisida kimiawi (anorganik) yang berlebihan ini lah yang akan menimbulkan resiko besar terhadap terjadinya kerusakan lingkungan.
            Di lain pihak, para pecinta lingkungan senantiasa menggunakan sistem pertanian yang berlandaskan lingkungan atau kondisi ekosistem disekitar (eco-farming). Pertanian ini dapat dikatakan sebagai pertanian yang selaras dengan alam (ekosistem). Sistem pertanian ini sangat berorientasi untuk memelihara keanekaragaman hayati dan dapat tetap memelihara kelestarian ekosistem (Guntoro, 2011). Namun, jika sistem ini digunakan secara sepihak tanpa sentuhan teknologi pun tetap akan beresiko rendahnya hasil produksi.
            Oleh karena itu, dalam mencari solusi sistem pertanian yang mampu menjawab tantangan perubahan iklim, kita dapat mengkombinasikan antara sistem pertanian teknologi maju (techno-farming) dan sistem pertanian ekologis (eco-farming) yang diharapkan dapat menjawab dan menciptakan suatu teknologi dan inovasi yang terbarukan dengan senantiasa tetap menjaga kelestarian ekosistem alam selain dapat meningkatkan hasil produksi pertanian. Melalui perspektif ekosistem tersebut, pola pertanian saat ini bisa diarahkan dengan sedemikian rupa sehingga sistem pertanian yang kita terapkan dapat mengantisipasi perubahan iklim dan dampak-dampaknya (Guntoro, 2011).
            Perubahan yang dilakukan oleh setiap petani dengan mengadopsi sistem pertanian tekno-ekologis (eco-techno farming) ini dapat dirasakan akan sulit berkembang jika tanpa dukungan penuh dari pemerintah. Dengan adanya dukungan pemerintah seperti penyediaan sistem informasi, perbaikan infrastruktur seperti saluran irigasi dan jalan, serta penyebaran hasil-hasil riset para pakar pertanian terkait dengan teknologi adaptasi dan mitigasi kepada masyarakat diharapkan dapat selalu menunjang setiap kebutuhan petani dalam menghadapi perkembangan jaman. Sehingga pada akhirnya kesejahteraan petani pun dapat terus meningkat dan ketersediaan stok pangan, papan dan serat yang selama ini tetap menjadi kebutuhan pokok manusia akan selalu tersedia dan pada akhirnya kedaulatan pangan disetiap negara pun akan terlaksana. 

oleh : R. Nanda Teguh P. (Kajian Ilmiah/Agroteknologi 2010).

Sumber : 

Guntoro, Suprio. 2011. Saatnya Menerapkan Pertanian Tekno-ekologis. Agromedia Pustaka : Jakarta

Kuznets, S. 1964. Economic Growth and Contribution of Agriculture. In Eicher, C.K. and Witt,   L.W. (eds). Agriculture in Economic Development. McGraw Hill. New York.

Lewis, W.A. 1954. Economic Development with Unlimited Supplies of Labour. Manchester School of Economic and Social Studies. 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *